Detail Berita

Foto

Dari Merah Putih ke Teladan Para Sahabat: Upacara yang Menyalakan Iman dan Nasionalisme Ananda

Sokaraja - Pada hari Senin, 12 Januari 2026, halaman SD IT Annida Sokaraja kembali menjadi saksi lahirnya semangat kebangsaan dan keteladanan iman melalui Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Ustadz Aji Anggara, S.Pd., selaku pendamping kelas 2, yang tampil hangat, komunikatif, dan penuh energi positif sejak awal upacara.

Upacara dibuka dengan sapaan tanya kabar dari pembina upacara kepada seluruh peserta. Momen sederhana ini terasa bermakna, karena membuat seluruh ananda merasa dihargai, diperhatikan, dan siap secara mental untuk mengikuti rangkaian upacara dengan fokus. Ustadz Aji juga memberikan apresiasi khusus kepada petugas upacara yang telah menjalankan tugasnya dengan baik, berani, dan penuh percaya diri. Lapangan terlihat rapi, barisan tertata, dan suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat.

Memasuki sesi amanat, Ustadz Aji kembali menyapa seluruh peserta, lalu mengecek semangat tiap kelas dengan tepuk semangat yang menggema di seluruh halaman sekolah. Energi positif langsung terasa. Beliau kemudian mengangkat tema besar yang sangat kuat dan relevan, yakni “Meneladani 4 Pemimpin Islam”, sebuah pesan yang menghubungkan antara cinta tanah air dan kecintaan kepada nilai-nilai luhur Islam.

Dalam amanatnya, Ustadz Aji mengajak ananda mengenal dan meneladani empat sahabat utama Rasulullah SAW yang melanjutkan kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Beliau menjelaskan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah simbol keimanan dan kelembutan hati. Ia dikenal sebagai pribadi yang sabar, baik hati, dan selalu membenarkan ucapan Nabi SAW. Bahkan, dalam satu kisah yang menyentuh, Abu Bakar pernah menangis saat membaca Al-Fatihah dalam shalat, karena begitu dalamnya rasa cinta dan takutnya kepada Allah. Dari Abu Bakar, ananda diajak belajar tentang ketulusan dan kekuatan iman.

Kemudian, Umar bin Khattab digambarkan sebagai “singa padang pasir”, seorang pemimpin yang pemberani, tegas, dan adil. Umar mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti kasar, tetapi berani membela kebenaran dan melindungi yang lemah. Nilai ini sangat relevan untuk membentuk karakter ananda agar tumbuh sebagai pribadi yang berani dan berprinsip.

Selanjutnya, Utsman bin Affan diperkenalkan sebagai sosok yang sangat dermawan dan rendah hati. Kekayaannya tidak membuatnya sombong, justru ia banyak membantu umat. Dari Utsman, ananda diajak meneladani keikhlasan berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Terakhir, Ali bin Abi Thalib disebut sebagai “pintu ilmu”, karena kecerdasan dan kedalaman ilmunya. Ali mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan siapa pun yang ingin menjadi pemimpin sejati harus terus belajar dan berpikir jernih.

Ustadz Aji menutup amanatnya dengan pesan yang mengena:

“Setidaknya, kalian bisa meniru nilai-nilai teladan dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Tidak harus menjadi seperti mereka secara sempurna, tetapi cukup menanamkan kebaikan, keberanian, keikhlasan, dan kecintaan pada ilmu dalam kehidupan sehari-hari.”

Upacara hari itu bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi ruang pembentukan karakter—di mana Merah Putih berpadu dengan cahaya keteladanan Islam, menyiapkan ananda menjadi generasi yang beriman, berakhlak, dan cinta negeri.

Tagline:
“Mengibarkan Merah Putih, Meneladani Para Sahabat, Membangun Generasi Hebat Berakhlak Kuat.”